Malam Pertama Mas Kipli
Malam itu adalah
malam pertama bulan Ramadhan, Kipli dengan antusias mengambil peci dan memakai
sarung (kotak-kotak yang ditengahnya ada kembangnya dan didalam kembangnya ada
kotaknya lagi yang terdapat tulisan “Tirai 1”). Sebelum sempat melangkahkan kaki
menuju masa depan yang cerah, langkahnya terhenti oleh suara lengkingan keras.
“Kip … tumben baru adzan Isya’ udah siap-siap pakai sarung. Apa gak
kepagian kalau mau nyolong jambu? Lha kreseknya mana?”. Sahut Emak Kipli.
“Eh Mama ini, sama anak sendiri kok Oskadon, eh suudon. Lha emak gak
inget ya ini malam apa?”
“Lha emangnya kamu ulang tahun ya? Atau mungkin ini hari anniversary
khitanan mu?”. Sambit Bapak Kipli.
“Jedug-jedug-jedag-jedug you know me so well… (suara efek dari
jantung maknya Kipli)”
“Maaf pak, anda gagal membawa pulang hadiah senilai dua juta rupiah.
Jawaban yang benar adalah Malam satu Ramadhan.” Jawab Kipli dengan nada bijak.
“Wah gak bisa fifty-fifty ya. Ya udah sana, ayo cepat berangkat…
Nanti pas balik jangan makai sandal orang ya!!! Wong kemarin aja malah ngambil
merk swallo palsu kok.”
Sesampainya di
Masjid, (setelah mengitari musholaa-mushola untuk observasi Imam mana yang
paling ringan tangan dan cepat langkah kakinya) ternyata Ia mendapat shaf yang
paling depan, bisa dikatakan ini adalah sebuah keajaiban yang tak
disangka-sangka.
Seperti
dugaannya Imam ini Tarawihnya hanya 20 menit, doanya yang lama 20 menit juga.
Dan waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, Imam mulai membaca doa “Robbana
Aatina Fi ddunya…”. Dalam hati ia berbisik halus, “Akhirnya…”. Tetapi
ternyata, sang Imam tidak melanjutkan dengan “Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin…”,
tetapi meneruskan doanya lagi. Kipli menggerutu dalam hatinya, “Pandai juga
ia melakukan manuver politik”.
Dan akhirnya
selesai juga, tetapi bagaikan jatuh tertimpa tangga lalu tertimpa pinang
dibelah dua lalu terjedot tahi kucing rasa coklat, terrnyata sang Imam langsung
memegang mikropon dan mulai membuka kitabnya. Ternyata observasinya kurang
cermat, di Masjid itu selepas Tarawih diadakan Kajian Kitab “Talimul
Mutaallim”.
Kipli
merogoh-rogoh sakunya berharap menemukan baling-baling bambu agar bisa keluar
dari kerumunan yang duduknya sangat rapat itu, atau setidaknya mendapat sebuah
bom asap agar bisa digunakan untuk mengusir nyamuk yang mulai menggroti sekujur
tubunhnya.
Akhirnya ngaji
dimulai, Kipli-pun terpaksa mendengarkan ceramah pak kyai tersebut. Di
sela-sela pembahasan Kipli sempat meyuguhi beberapa pertanyaan (bukan ‘melempar
pertanyaan’,Masa kyai dilempari?).
Sesampainya di
rumah, Kipli langsung mencatat poin-poin diskusi di buku Diari nya
“Malam 1 Ramadhan 2017, aku mendapat pengalaman dan pelajaran
berharga dari pak Kyai yang biasanya hanya kulihat ketika hari Jumat dan hari
Raya…
Langsung saja, Cekidot…
Dawuh Pak Kyai: “Mushonnif (Pak Shon) mengarang kitab ini dengan
mulai membaca Bismillah lalu membaca Hamdalah dan kemudian Sholawat pada Nabi.
Jangan sampai ketika melakukan sesuatu kita lupa membaca basmalah, membaca
basmalah itu berarti ketika melakukan sesuatu tujuan kita ya hanya
Allah,bukan yang lain, serta sebagai minta tolongnya kita kepada Allah. Lalu hamdalah
berarti kita ingat bahwa semua pekerjaan bisa terjadi dan sukses karena rahmat
Allah, lalu jangan lupa sholawat agar kita juga dapat syafaat dari Kanjeng Nabi
Muhammad”.
Saya bertanya,: “Pak Kyai,kalau mau ngelakuin maksiyat boleh
nggak diawali dengan bismilah? Kan kalau maksiyatnya dipinang sama
Bismillah kan biar dosanya gak dicatata malaikat?
Pak Kyai: Wah itu mah sama saja sama make celana di kepala, trrus
mondar-mandir keliling kampung gak pake celana. Make celana itukan baik,
tapi jika salah penempatannya jadinya malah dobel salahnya. Salah karna gak
pake celana, dan salah karna malah dipake di kepala. Paham?
Saya: Oh gitu yah pak Kyai, berarti dosanya malah berlipet-lipet ya….
Kipli lalu
meletakkan buku hariannya di bawah bantal (mungkin berharap kalau bangun
diganti sama uang, *efek kebanyakan nonton Tom N Jerry) lalu tidur dengan
tenang.


0 Komentar