Hidup Baik, Matipun dengan Baik
Sore tadi, sekitar jam setengah empat waktu
saya mau ke kamar mandi sempat terjadi dialog singkat dengan ma’e/ibuk kurang
lebih transletnya begini. “listriknya padam, mother?”, “yes, you right”, lalu
aku melenggang dengan cantiknya ke kamar mandi. “Ctet”. ma’e kemudian berkaata,
“ tadi bilang sendiri mati lampu tapi malah mencet cetetan lampu (bahasa
indonesianya tetap cetetan)”. Saya jawab, “sudah kebiasaan mother”.
.
.
Dari situ saya semakin mantap dengan dawuh
guru saya, “orang itu mati sesuai kebiasaannya ketika hidup (al mar’u maata
‘ala ma ‘aasya)”. Lha wong kebiasaan seperti itu saja tubuhku seakan bergerak
sendiri kok, mungkin kalau dalam istilah kerennya dikenal dengan teori stimulus
respon. Yakni ketika tubuh terbiasa dengan sebuah rangsangan maka akan terjadi
sebuah respon yg terjadi secara otomatis bahkan kepada binatang
sekalipun.(seingat saya sih gitu teorinya).
.
.
Kalau dipikir-pikir, Apa jadinyaya jika punya kebiasaan nonton orkes lalu ketika
sekarat dan disuruh baca syahadat malah nyanyi “apa salah dan dosaku sayang,
cinta suciku kau buang-buang…”, kan gak jelas, untung malaikat Izrail gak hafal
lagunya. Dan gak asyik juga kalau mati malah teriak Jbreeet…. Malah ngageti
bocah. Gara-gara terlalu hobi begadang nonton bola.
.
.
Jadi seharusnya mulai sekarang saya harus
berusaha membiasakan perbuatan baik yang sekiranya ketika mati akan mati dengan
baik pula. Aamiiin.


0 Komentar