Hidup Baik, Matipun dengan Baik

23.44


Hidup Baik, Matipun dengan Baik



Khusnul Khatimah

Sore tadi, sekitar jam setengah empat waktu saya mau ke kamar mandi sempat terjadi dialog singkat dengan ma’e/ibuk kurang lebih transletnya begini. “listriknya padam, mother?”, “yes, you right”, lalu aku melenggang dengan cantiknya ke kamar mandi. “Ctet”. ma’e kemudian berkaata, “ tadi bilang sendiri mati lampu tapi malah mencet cetetan lampu (bahasa indonesianya tetap cetetan)”. Saya jawab, “sudah kebiasaan mother”.

.
.
Dari situ saya semakin mantap dengan dawuh guru saya, “orang itu mati sesuai kebiasaannya ketika hidup (al mar’u maata ‘ala ma ‘aasya)”. Lha wong kebiasaan seperti itu saja tubuhku seakan bergerak sendiri kok, mungkin kalau dalam istilah kerennya dikenal dengan teori stimulus respon. Yakni ketika tubuh terbiasa dengan sebuah rangsangan maka akan terjadi sebuah respon yg terjadi secara otomatis bahkan kepada binatang sekalipun.(seingat saya sih gitu teorinya).
.
.
Kalau dipikir-pikir, Apa jadinyaya  jika punya kebiasaan nonton orkes lalu ketika sekarat dan disuruh baca syahadat malah nyanyi “apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang…”, kan gak jelas, untung malaikat Izrail gak hafal lagunya. Dan gak asyik juga kalau mati malah teriak Jbreeet…. Malah ngageti bocah. Gara-gara terlalu hobi begadang nonton bola.
.
.
Jadi seharusnya mulai sekarang saya harus berusaha membiasakan perbuatan baik yang sekiranya ketika mati akan mati dengan baik pula. Aamiiin.
Previous
Next Post »
0 Komentar