Kucing tak berperikemanusiaan, Atau Manusia tak berperi”kekucingan”?
Dalam beberapa minggu ini ada kucing yg sering datang minta makan ke
rumah( panggil saja Mawar, nama samaran). Wong namanya kucing wedok ya
datangnya sepaket yakni dalam keadaan meteng (hamil) tanpa diketahui siapa dalangnya,
DASAR KUCING MURAHAN!!! (Lha wong dijual gak laku, dikasihke orang gak ada yang
mau). Dan sekarang ini ia sudah mempunyai dua jabang bayi.
Setiap
orang pasti ngerti kalau kucing punya anak, pasti anaknya sering
dipindah-pindah ke rest area ternyaman dan terbersih menurut versinya hanya
untuk sang buah hati tercinta. Dan biasanya setelah manak, kerjaannya Simbok
Cuma dua yaitu cari makan sama ngelonin baby, adapun masalah cari bojo lagi wis
gak dipikirkan, apalagi sampai mikirke beli kosmetik, nyandang dll.
Saya
tidak tahu, apakah si Simbok ini gak pernah mikir (mungkin ketika sedang berak
atau ngrumpi sama kucing tetangga) kalau anak-anaknya ini kelak gak bisa
manfaati sama sekali, gak bisa ngrawat dia saat tua dan sakit-sakitan, gak bisa
ngebiyain dia naik haji apalagi ngedoain dia nanti pas sudah mati. Tapi kok ya
masih di telateni…
Mungkin
sesekali si Simbok ini perlu mikir kayak sebagian manusia, kalau anak yang
lahir diluar pernikahan itu harusnya dibuang kekali, anak yang suka ngrepotin
itu pantesnya digamparin, anak yang bodoh itu gak perlu dimanjain dll. Atau
mungkin manusia yang harus berpikir kaya kucing? pokoke konsepnya kucing itu
bahwa kasih sayang itu tentang apa yang bisa kita beri, bukan tentang apa yang
bisa kita terima; dan tentang memberi manfaat bukan mencari manfaat.
Ya
apapun itu, kasih sayang kucing ke anaknya itu hanya pecahan dari satu persen
rahmat Allah yang diletakkan di dunia. Yang 99 persen lagi entah seperti apa
uenaaaake… yang terpenting itu kamu harus sayang sama aku beb, seperti kucing
menyayangi anaknya…


0 Komentar