Chapter 2: Tragedi Mencerahkan di Pasar Yang Melelahkan

07.45


Tragedi Mencerahkan di Pasar Yang Melelahkan



pentingnya akhlak

Alkisah bahwa seorang anak yang terlahir dari rakyat jelata yang bernama Kipli itu terbangun dari tidurnya, sepersekian detik sebelum air dalam gayung yang berbentuk bundar berwarna hijau yang menyatu dengan hijaunya lumut dan tak bergagang itu menjamah tubuhnya dengan kasar bagaikan cabikan seorang janda liar yang tlah lama kehilangan suaminya.

“E… bocah gemblung!!! Alarm sudah bunyi tiga kali puasa tiga kali lebaran kok gak bangun-bangun! (ringtone nya lagu “Bang toyib). Sahur Kip… Sahur…”  Teriak emaknya dengan nada serak-serak basah dan ke metal-metalan ala vokalis slank.

“ Kamu gak tahu ini udah jam berapa?. ya jelas lah gak tahu, kamu kan tidur (dijawab sendiri sama emak nya) cie… cie…. Emak hebatkan kan, bisa jawab?. Sekarang itu udah jam 3, menit 45 detik 37 dengan perhitungan setelah tambahan  waktu emak ngomong. Ayo bangun!!! Makan dulu sana, Ada Mie Kari Ayam Spesial rasa coklat” Si Emak menambahi.

“Saya sebagai anak muda menolak untuk mengakui bahwa saya bangun terlambat, keterlambatan Saya ini memang sudah Saya rencanakan dengan matang sesuai perhitungan sistemtis dengan kaidah-kaidah ilmiah agar bisa mengakhirkan sahur sebagaimana sunnah Nabi.” Sahut Kipli dengan lantang.

“Sudah makan sana…. Jangan lupa cuci muka dulu biar Mie nya gak jadi asin dan beracun karna bercampur air liur mu…” Jawab ayahnya dengan ketus dengan sedikit kuah basah yang mengalir dari bibirnya.

Selepas makan sahur, Kipli rehat sejenak di teras ditemani remang-remang cahaya surya yang mulai mengintip di kegelapan malam. Kemudian ayahnya datang…

“Nak… Ayahmu ini tlah mendengar mengenai sebuah prestasi besar yang tlah kau torehkan dalam tinta sejarah bangsa ini. Yaitu tentang peristiwa tadi malam pas kamu ngaji itu loh nak…. Ini nak, Ayah akan wariskan Kitab warisan budaya leluhur kita dari generasi ke generasi. Ini Kitab “Talimul Mutaallim” biar kamu bisa ikut ngaji lagi nanti malam… Itu sudah ada terjemahnya juga biar bisa kamu baca sendiri…” Ayahnya memotong lamunan Kipli.

“Wah Ayah memang hebat dalam menjaga dan merawat serta melestarikan bukti sejarah nenek moyang kita. Buktinya bukunya masih putih bersih belum ada coretan sama sekali, bahkan masih ada notanya” Jawab Kipli.

Kipli pun beranjak Sholat Subuh kemudian membantu Ibunya mempersiapkan dagangan untuk di jual ke Pasar. Akhirnya tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, Kipli bersama Emaknya melangkahkan motor lawas dua tak yang suaranya masih menggelegar di telinga para pecintanya. “Treteng… teng… teng…. teng… brutt… (ditambah merdunya kentut Kipli). Dan jeng jeng jeng ( kekuatan scrappy doo), mereka tiba di Pasar.

Sang Ibu kemudian memberikan setengah dagangan kangkungnya kepada Kipli untuk di edarkan berkeliling pasar, sementara Sang Ibu tetap berdagang di pojokan Pasar dengan alas berupa koran seadanya.

Kipli kemudian mulai menyusup ke keramaian-keramaian, menembus lorong kegelapan demi memberantas makhluk bernama keterpurukan ekonomi yang sedang di hadapinya. Ia mulai menawarkan dagangannya kepada setiap pengunjung.

“Pak… Kangkung Pak!!! (Kipli berjalan menghampiri seorang lelaki paruh baya yang sedang gelisah -geli-geli basah- menunggu Ibu dari anak-anaknya yang sedang belanja)”

“Wong Saya lagi kesel, nungguin bini Saya gak balik-balik malah ditawarin kangkung. Emang Saya kelinci! (dengan nada meninggi)”

“Murah lho Pak, Cuma lima ratus perak, tidak pakai saus, tidak pakai kecap juga tidak pakai kol. Kangkung itu manfaatnya banyak lho Pak! Bapak pernah nonton Popeye? Dia itu bisa kuat karena makan apa coba? Ya betul karena makan bayam.”

“E… bocah edan!!!”

Penolakan itu tidak lantas membuat Kipli gundah gulana, terluntang-lantung dan tenggelam dalam lautan luka dalam. Ia bangkit, ditegakkannya tulang rusuknya.

“Krtkkk…” (suara punggungnya)

“Hidup ini memang tidak mudah, jadi biasakanlah! (Kipli memotivasi tulang punggungnya)

Waktu berlalu begitu cepatnya ( bagi pembaca, tapi sangat lama bagi Kipli), matahari mulai meninggi, ayam mulai kehilangan suara kokonya, kucing-kucing  kehilangan keperawanannya. Dagangan Kipli masihh utuh dan mulai terlihat tanda-tanda penyakit anemia, terlihat letih, lemah, lesu, rame rasanya. Ia mulai putus asa, ia kemudian mendatangi tempat Ibunya, dan apa yang terjadi pemirsa? Dagangan ibunya tlah habis. Wow emejing!!

“Daganganmu kok masih banyak? Wah kalau kayak gini ya, kamu gak cocok ikut bisnis MLM. Sini biar emak jualin!”

“Tuh lihat, ada orang lewat… biar profesional yang nanganin!”
Mak Kipli menyapa calon kliennya dengan senyuman manisnya.

“Buk, Gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah sehat” (terlihat sedikit enggan menjawab). Jawab klien eMak Kipli.

“Alhamdulillah, padahal diluar sana banyak orang yang sakit karena kekurangan makan sayur-sayuran.” Balas Emak Kipli.

“Kangkungnya berapaan ya bu…  beli tiga dong.. yang ini ya bu…” Jawab Klien Emak Kipli.

“Makasih buk, semuanya Cuma 1500 rupiah”. Balas Emak Kipli.

“Gimana Kip, mudah kan?”

“Hmm (Kipli tersenyum sambil merenung, tapi sia-sia, karna Kipli yakin kalau emaknya gak mungkin pergi ke dukun atau pake penglaris).

Kipli kemudian mengikuti tutorial yang diajarkan emaknya dan akhirnya kangkung itu Sold Out atau terjual habis.

“Aha” (seakan-akan muncul cahaya terang dalam pikiran Kipli) tragedi tadi kok malah ngingetin gue materi Kyai tadi malam ya… (batin Kipli).

Kipli lalu mencatatnya di Android China miliknya dengan bahasa yang singkat dan mudah dipahami dengan harapan agar bisa dicatat kembali di buku hariannya.

Tragedi Melelahkan di Pasar Yang Mencerahkan
Saya diajari Emak gimana cara berjualan dengan baik.

Emak mulai dengan senyuman, menyapa, memuji dan tara… kangkung terbeli bahkan sebelum Emak menawarkannya.

Aku teringat ngaji semalam bahwa para Ulama selalu memulai Kitabnya bahkan seluruh aktivitasnya dengan basmalah, hamdalah dan shalawat.

Aku sadar bahwa ini semua merupakan Adab kepada Allah.

Bahwa manusia saja meski hanya diterapkan adab ini, bisa memberi tanpa diminta. Apalagi Allah yang Maha Kuasa.

Isi sebuah permintaan/ doa memang penting tapi adab berdoa itu lebih penting, karna menunjukkan bahwa kita memuliakan kepada sang pemberi.

Dengan Adab kita akan diberi lebih dari yang bahkan tidak kita ucapkan.

Awali doamu dengan hati yang tersenyum menerima takdirnya, dendangkan kemerduan Basmalah, kejernihan lagu Hamdalah lalu utamakan sanjungan kepada kekasih-Nya agar doamu lebih cepat terbang menuju ke hadirat-Nya.
1 Ramadhan, Kipli.
Previous
Next Post »
0 Komentar