Tragedi Mencerahkan di Pasar Yang Melelahkan
Alkisah bahwa seorang anak yang
terlahir dari rakyat jelata yang bernama Kipli itu terbangun dari tidurnya,
sepersekian detik sebelum air dalam gayung yang berbentuk bundar berwarna hijau
yang menyatu dengan hijaunya lumut dan tak bergagang itu menjamah tubuhnya
dengan kasar bagaikan cabikan seorang janda liar yang tlah lama kehilangan
suaminya.
“E… bocah gemblung!!! Alarm
sudah bunyi tiga kali puasa tiga kali lebaran kok gak bangun-bangun! (ringtone
nya lagu “Bang toyib). Sahur Kip… Sahur…” Teriak emaknya dengan nada serak-serak basah dan
ke metal-metalan ala vokalis slank.
“ Kamu gak tahu ini udah
jam berapa?. ya jelas lah gak tahu, kamu kan tidur (dijawab sendiri sama emak
nya) cie… cie…. Emak hebatkan kan, bisa jawab?. Sekarang itu udah jam 3, menit
45 detik 37 dengan perhitungan setelah tambahan
waktu emak ngomong. Ayo bangun!!! Makan dulu sana, Ada Mie Kari Ayam
Spesial rasa coklat” Si Emak menambahi.
“Saya sebagai anak muda
menolak untuk mengakui bahwa saya bangun terlambat, keterlambatan Saya ini
memang sudah Saya rencanakan dengan matang sesuai perhitungan sistemtis dengan
kaidah-kaidah ilmiah agar bisa mengakhirkan sahur sebagaimana sunnah Nabi.”
Sahut Kipli dengan lantang.
“Sudah makan sana…. Jangan
lupa cuci muka dulu biar Mie nya gak jadi asin dan beracun karna bercampur air
liur mu…” Jawab ayahnya dengan ketus dengan sedikit kuah basah yang mengalir
dari bibirnya.
Selepas makan sahur, Kipli rehat
sejenak di teras ditemani remang-remang cahaya surya yang mulai mengintip di
kegelapan malam. Kemudian ayahnya datang…
“Nak… Ayahmu ini tlah
mendengar mengenai sebuah prestasi besar yang tlah kau torehkan dalam tinta sejarah
bangsa ini. Yaitu tentang peristiwa tadi malam pas kamu ngaji itu loh nak…. Ini
nak, Ayah akan wariskan Kitab warisan budaya leluhur kita dari generasi ke
generasi. Ini Kitab “Talimul Mutaallim” biar kamu bisa ikut ngaji lagi nanti
malam… Itu sudah ada terjemahnya juga biar bisa kamu baca sendiri…” Ayahnya
memotong lamunan Kipli.
“Wah Ayah memang hebat
dalam menjaga dan merawat serta melestarikan bukti sejarah nenek moyang kita. Buktinya
bukunya masih putih bersih belum ada coretan sama sekali, bahkan masih ada
notanya” Jawab Kipli.
Kipli pun beranjak Sholat Subuh
kemudian membantu Ibunya mempersiapkan dagangan untuk di jual ke Pasar. Akhirnya
tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, Kipli bersama Emaknya melangkahkan motor
lawas dua tak yang suaranya masih menggelegar di telinga para pecintanya. “Treteng…
teng… teng…. teng… brutt… (ditambah merdunya kentut Kipli). Dan jeng jeng jeng
( kekuatan scrappy doo), mereka tiba di Pasar.
Sang Ibu kemudian memberikan setengah
dagangan kangkungnya kepada Kipli untuk di edarkan berkeliling pasar, sementara
Sang Ibu tetap berdagang di pojokan Pasar dengan alas berupa koran seadanya.
Kipli kemudian mulai menyusup ke
keramaian-keramaian, menembus lorong kegelapan demi memberantas makhluk bernama
keterpurukan ekonomi yang sedang di hadapinya. Ia mulai menawarkan dagangannya
kepada setiap pengunjung.
“Pak… Kangkung Pak!!! (Kipli
berjalan menghampiri seorang lelaki paruh baya yang sedang gelisah -geli-geli
basah- menunggu Ibu dari anak-anaknya yang sedang belanja)”
“Wong Saya lagi kesel,
nungguin bini Saya gak balik-balik malah ditawarin kangkung. Emang Saya
kelinci! (dengan nada meninggi)”
“Murah lho Pak, Cuma lima
ratus perak, tidak pakai saus, tidak pakai kecap juga tidak pakai kol. Kangkung
itu manfaatnya banyak lho Pak! Bapak pernah nonton Popeye? Dia itu bisa kuat
karena makan apa coba? Ya betul karena makan bayam.”
“E… bocah edan!!!”
Penolakan itu tidak lantas membuat
Kipli gundah gulana, terluntang-lantung dan tenggelam dalam lautan luka dalam. Ia
bangkit, ditegakkannya tulang rusuknya.
“Krtkkk…” (suara
punggungnya)
“Hidup ini memang tidak mudah,
jadi biasakanlah! (Kipli memotivasi tulang punggungnya)
Waktu berlalu begitu cepatnya ( bagi
pembaca, tapi sangat lama bagi Kipli), matahari mulai meninggi, ayam mulai
kehilangan suara kokonya, kucing-kucing kehilangan keperawanannya. Dagangan Kipli masihh
utuh dan mulai terlihat tanda-tanda penyakit anemia, terlihat letih, lemah,
lesu, rame rasanya. Ia mulai putus asa, ia kemudian mendatangi tempat Ibunya,
dan apa yang terjadi pemirsa? Dagangan ibunya tlah habis. Wow emejing!!
“Daganganmu kok masih
banyak? Wah kalau kayak gini ya, kamu gak cocok ikut bisnis MLM. Sini biar emak
jualin!”
“Tuh lihat, ada orang
lewat… biar profesional yang nanganin!”
Mak Kipli menyapa calon
kliennya dengan senyuman manisnya.
“Buk, Gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah sehat”
(terlihat sedikit enggan menjawab). Jawab klien eMak Kipli.
“Alhamdulillah, padahal
diluar sana banyak orang yang sakit karena kekurangan makan sayur-sayuran.”
Balas Emak Kipli.
“Kangkungnya berapaan ya
bu… beli tiga dong.. yang ini ya bu…”
Jawab Klien Emak Kipli.
“Makasih buk, semuanya Cuma
1500 rupiah”. Balas Emak Kipli.
“Gimana Kip, mudah kan?”
“Hmm (Kipli tersenyum
sambil merenung, tapi sia-sia, karna Kipli yakin kalau emaknya gak mungkin
pergi ke dukun atau pake penglaris).
Kipli kemudian mengikuti tutorial
yang diajarkan emaknya dan akhirnya kangkung itu Sold Out atau terjual habis.
“Aha” (seakan-akan muncul cahaya
terang dalam pikiran Kipli) tragedi tadi kok malah ngingetin gue materi Kyai
tadi malam ya… (batin Kipli).
Kipli lalu mencatatnya di Android
China miliknya dengan bahasa yang singkat dan mudah dipahami dengan harapan
agar bisa dicatat kembali di buku hariannya.
“Tragedi Melelahkan di
Pasar Yang Mencerahkan
Saya diajari Emak gimana
cara berjualan dengan baik.
Emak mulai dengan
senyuman, menyapa, memuji dan tara… kangkung terbeli bahkan sebelum Emak
menawarkannya.
Aku teringat ngaji semalam
bahwa para Ulama selalu memulai Kitabnya bahkan seluruh aktivitasnya dengan
basmalah, hamdalah dan shalawat.
Aku sadar bahwa ini semua
merupakan Adab kepada Allah.
Bahwa manusia saja meski
hanya diterapkan adab ini, bisa memberi tanpa diminta. Apalagi Allah yang Maha
Kuasa.
Isi sebuah permintaan/ doa
memang penting tapi adab berdoa itu lebih penting, karna menunjukkan bahwa kita
memuliakan kepada sang pemberi.
Dengan Adab kita akan
diberi lebih dari yang bahkan tidak kita ucapkan.
Awali doamu dengan hati
yang tersenyum menerima takdirnya, dendangkan kemerduan Basmalah, kejernihan
lagu Hamdalah lalu utamakan sanjungan kepada kekasih-Nya agar doamu lebih cepat
terbang menuju ke hadirat-Nya.
1 Ramadhan, Kipli.


0 Komentar