Ta’lim Muta’allim Kunci Awal Peradaban
“Kamu mau ngaji apa?, Sudah pernah
ngaji kitab Ta’lim belum?” kata pak Kyai kepada calon santrinya. Lah kenapa kok
yang ditanyain malah kitab Ta’limul Muta’allim dulu ya? Kenapa kok gak
kitab-kitab yang lain? Ada hikmah apakah dibalik peristiwa ini? Apa istimewanya
kitab Ta’lim al-Muta’allim?
Sebelumnya saya akan menggambarkan
kenapa penting bagi kita mempelajari kitab Talim? Kenapa harus mengerti
mengenai metode belajar?
Apa Pentingnya belajar kitab Ta’limul Muta’allim?
Seberapa seringkah anda mendengar
berita ada guru yang dilaporkan oleh muridnya ke kantor Polisi? Seberapa
seringkah anda mendengar berita adanya bullying di sekolah-sekolah bahkan
sekolah dasar? Seberapa seringkah anda mendengar anak-anak SMA bahkan SMP yang
hamil di luar nikah? Seberapa seringkah anda mendengar berita kasus korupsi?
Yah sangat sering, sampai-sampai rasa
iba dalam hati ini hampir habis karena sudah terlalu bosan melihatnya.
Sampai-sampai peristiwa tersebut tak mampu membuat kita untuk sekedar menghela
nafas panjang dan mengucapka “Astagfirullah”.
Siapa yang salah? Orang tua yang tak
mampu mendidik? Guru yang kurang sabar? Teman-teman pergaulan yang
mempengaruhi? Aparat Polisi yang kurang tanggap? Pemerintah yang kurang
responsif? Ataukah Ulama yang ceramahnya
membuat ngantuk?
Tidak, yang salah adalah Saya.
Kenapa Saya? Karena Saya sebagai orang yang lebih dewasa tidak mampu
memberikan contoh baik apalagi berupa ceramah-ceramah. Karena saya tidak bisa
menjadi kawan yang menyenangkan sehingga mereka lari kepada pergaulan yang
buruk. Karena saya tidak pernah memanjatkan doa untuk mereka agar dikarunia
ilmu dan akhlak
Yups. Pada umumnya sekolah hanya
mengajarkan ilmu tanpa membekali dengan agama yang kuat dan juga akhlak yang
baik, sehingga mereka justru menjadi wong pinter yang keblinger. Mereka tidak
pernah memperhatikan bagaimana proses yang benar dalam mencari ilmu –yakni
harus disertai adab- , yang mereka cari hanya hasilnya saja.
Pada kitab Ta’lim Muta’allim karya
Syekh Az-Zarnuji ini hal yang paling ditekankan adalah adab dari pembelajar
tersebut. Ibaratnya beliau itu menunjukkan jalan yang benar kepada para
penuntut ilmu yang harus dilaluinya agar mencapai ilmu yang berkah dan dapat
bermanfaat dengan ilmunya. Orang kampung yang tidak pernah pergi ke Jakarta
tidak akan sampai ke Jakarta jika enggan bertanya, gak punya peta, gak punya
hp, bahkan gak punya celana. Yah kaya gitu lah, tujuan dunia yang remeh saja
harus tahu caranya, apalagi ilmu bray, tujuan agung ini!!! Yah pasti lebih
butuh lah…
Kenapa sih Mbah Zarnuji ngarang Kitab Ta’lim?
Tentunya Mbah Zarnuji gak kepengen
populer, gak pengen kaya, dan gak pengen di anggap alim karena ngarang kitab
ini. Lalu apa tujuannya?
Sebagaimana diungkapkan dalam
Mukaddimahnya, Mbah Zarnuji mengarang kitab ini karena kebutuhan mendesak
sak…sak… dari masyarakat. Beliau itu prihatin karena banyak banget yang nyari
ilmu, tapi kok banyak juga yang hasilnya gak sesuai harapan atau bahkan gak
dapat hasil apa-apa, apa lagi sampai dapat menularkannya ke student-student
lain.
Lah pada zaman Mbah Zarnuji aja gitu,
apalagi JAMAN NOW???


0 Komentar